April 23, 2024
Opini

Saya Mau Belajar Jurnalisme Radio

Talk Show Radio bagian Jurnalisme Radio. (FOTO : Doedy Oskandar)

Palembang, Probuana.com – Pada sebuah orientasi jurnalistik yang diikuti wartawan muda dan milenial, seorang peserta yang sehari-hari adalah reporter sebuah radio bertanya, “Mengapa pada pelatihan ini tidak ada materi tentang jurnalisme radio?” katanya.

Memang pada orientasi wartawan tersebut sebagian besar peserta adalah wartawan atau jurnalis yang berasal dari media cetak dan media online, sementara jurnalis yang berasal dari radio hanya satu orang. Materi yang disampaikan para nara sumber diantaranya semuanya merujuk pada produk media cetak atau online, seperti teknik menulis berita, teknik wawancara dan teknik menulis feature.

Materi yang disampaikan dalam orientasi, tidak ada tentang jurnalisme radio atau teknik wawancara radio. Juga para pemateri seluruhnya berlatar belakang sebagai wartawan di media cetak (surat kabar) atau wartawan media online. Di radio tempatnya bekerja juga tidak ada reporter atau redaktur yang punya latar belakang atau pernah ikut pelatihan jurnalisme radio.

Pertanyaan tersebut harus mendapat jawabannya karena jurnalisme radio bukan anak tiri dalam lanskap jurnalistik atau pers. Tak salah jika sang reporter radio meminta, “Saya ikut orientasi untuk bisa belajar tentang jurnalisme radio.”

Pada era digital saat ini platform media massa yang tersedia semakin beragam, dari yang dulu hanya media cetak dan media elektronik (televisi dan radio) kini ada platform media online atau daring. Setiap media massa tersebut memiliki keunikannya masing-masing, satu platform media massa berbeda dengan media massa lainnya.

Khusus media massa radio sampai kini adalah media yang mampu terus bertahan di tengah gempuran kehadiran media online yang membuat media cetak yang menurut sebagian orang tengah berada pada masa senja kala.

Radio adalah salah satu media massa elektronik tertua di muka selama hampir satu abad lebih tetap eksis dan radio siaran masih bertahan mengatasi persaingan keras media massa lainnya. Theo Stokkink dalam “The Professional Radio Presenter: Penyiar Radio Profesional” (1977) menyebutkan bahwa “Radio adalah media yang buta, maka pendengarnya mencoba untuk mengevaluasikan apa yang didengarnya dan mencoba untuk memvisualisasikan apa yang didengarnya dan mencoba menciptakan si pemilik suara dalam bayangan mereka sendiri.”

Kemudian dalam UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, menjelaskan “Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara secara umum dan terbuka, berupa program yang terstruktur dan berkesinambungan.”

Kini media massa radio atau radio hadir dengan keunikan tersendiri yang membuat pendengar bisa membedakan, radio yang didengarnya adalah Radio A dengan segmen pendengar A, demikian pula dengan radio lainnya. Keunikan itu bisa ditemukan dari bahasa atau pilihan kata yang digunakan penyiar dalam penyampaian informasi, musik atau lagu, demikian pula dengan efek atau suara. Juga masing-masing radio siaran punya jingle radio yang khas. Itu menjadi identitas masing-masing stasiun radio, dari Radio Republik Indonesia (RRI) sampai radio swasta dan radio komunitas.

Stasiun radio sesama stasiun radio saling bersaing untuk merangkul pendengarnya. Radio juga bersaing dengan televisi dan media cetak atau media online untuk menyajikan informasi. Bahkan kini kehadiran media massa juga menawarkan konvergensi media. Seperti media online, selain menyajikan berita cetak mereka miliki kanal media pandang dan dengar seperti layaknya televisi dan radio yang bisa disaksikan secara live streaming di layar komputer atau telepon seluler (ponsel). Demikian pula dengan radio, RRI punya kanal RRI Net.

Seperti media massa lainnya, radio juga berfungsi sebagai media ekspresi, komunikasi, informasi, pendidikan, dan hiburan. Radio juga memiliki kekuatan terbesar sebagai media imajinasi atau media yang buta, radio menstimulasi banyak suara, dan berupaya menvisualisasikan suara penyiar ataupun informasi faktual melalui pendengarnya.

Di tengah persaingan dengan media kompetitor yang semakin canggih, namun radio tetap saja mendapat perhatian di hati masyarakat. Radio adalah media auditif (hanya bisa didengar), tetapi murah, merakyat, dan bisa dibawa untuk didengar di mana saja berada.

Menurut Errol Jonathans dalam buku “Politik dan Radio – Buku Pegangan bagi Jurnalis Radio” yang diterbitkan Friedrich-Naumann-Stiftung (2000) menyebutkan, meski radio tetap unggul dalam karakter “komunikasi intim yang imajinatif” tetapi radio bukan lagi satu-satunya sumber yang pelayanan informasinya tercepat. Kecepatan saat ini bukan lagi segala-galanya yang bisa dibanggakan radio. Warga dunia kini dimanjakan oleh kemudahan mengakses keragaman informasi yang tetap menjadi kebutuhan penting umat manusia di muka bumi. Fakta ini menjadi tantangan bagi media massa radio.

Jurnalisme Radio

Dalam buku “Politik dan Radio – Buku Pegangan bagi Jurnalis Radio” yang diterbitkan Friedrich-Naumann-Stiftung (2000) menyebutkan, para ahli jurnalisme radio percaya bahwa radio siaran merupakan laboratorium yang selalu hidup dan dinamis mengembangkan model-model jurnalismenya. Selama ini mengenal bentuk jurnalisme yang berwujud berita, features, wawancara, reporetase, diskusi, editorial, uraian, obrolan, dialog, majalah udara dan interaktif.

Tetapi melalui pendekatan “format siaran” serta “target khalayak pendengar,” radio mempunyai peluang lebih banyak mengembangkan pola-pola yang sudah tercipta saat ini. Termasuk gagasan melahirkan “infotainment,” yaitu kemasan sajian informasi melalui pendekatan yang menghibur. Sehingga sangat biasa apabila beberapa bentuk jurnalisme radio bersenyawa menjadi bentuk baru.

Satu diantara beberapa bentuk jurnalisme radio yang dianggap dasar adalah berita (news). Selain musik, pendengar radio juga mendapat sajian program siaran berita. Program siaran berita adalah kebutuhan informasi yang dibutuhkan publik atau pendengar di mana pun berada.

Citra berita sebagai ekspresi jurnalisme radio sejalan dengan perkembangan pemahaman umum, bahwa media cetak dikatakan sebagai medium pemberitaan karena isinya mayoritas berbentuk berita. Radio ternyata juga diisyaratkan seperti itu.

Apakah berita radio sama dengan berita media cetak atau media online? Mengutip Masduki dalam “Jurnalistik Radio (Menata Profesionalisme Reporter dan Penyiar)” (2001), sebetulnya belum ada definisi yang sangat tepat untuk menggantikan istilah radio news, kecuali kesepakatan bahwa news is big business. Ada banyak pendapat pakar radio yang bisa menjadi rujukannya.

Menurut Masduki, dari beberapa literatur dapat dikatakan bahwa definisi berita radio adalah suatu sajian laporan berupa fakta dan opini, yang mempunyai nilai berita, penting, dan menarik bagia sebanyak mungkin orang, dan disiarkan melalui media radio secara berkala. Berita radio menjawab persoalan apa yang terjadi, dan bagaimana peristiwa itu berlangsung.

Atau jika dalam media cetak pengertian berita adalah peristiwa yang diulangi, maka dalam radio berita adalah peristiwa yang dikomunikasikan kepada pendengar pada saat yang bersamaan dengan peristiwanya. Jika digabungkan jurnalistik radio bisa diartikan sebagai proses produksi berita dan menyebarluaskannya melalui media radio.

Di stasiun radio yang menyiarkan berita, tugas utama wartawan atau jurnalis atau reporternya adalah melakukan liputan berita. Mencari dan dan menggali informasi yang akan menjadi sebagai bahan berita. Reporter adalah profesi yang membanggakan. Produksi jurnalisme radio sangat tergantung pada peran reporter yang harus memiliki kemampuan merencanakan, menggali, meliput, melaporkan hingga menyiarkan informasi untuk khalayak pendengar.

Errol Jonathans menyebut reporter adalah “mata” dan “telinga” khalayak pendengarnya yang mampu mewakili kebutuhan mereka terhadap kebutuhan informasi. Sehingga radio hanya menjadi medium pelayanan terhadap kebutuhan itu. Reporter radio adalah kombinasi antara pekerja dan seniman berketerampilan khusus. Sebagai piranti “mata” dan “telinga” stasiun radio dan khalayak pendengarnya, reporter menjadi sosok yang dipercaya mewakili keingintahuan khalayak pendengar.

Seorang reporter radio harus memahami segmentasi pendengar dengan pendekatan empati. Reporter adalah arsitek suara yang piawai merangkai kata, kalimat, bahasa, sumer informasi dan suara suasana peliputan, memberi gambar imajinasi pendengar sehingga khalayak pendengar terhindari dari bias makna. Reporter juga seorang intelektual yang selalu selangkah ke depan visi dan gagasannya.

Dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya seorang reporter radio bisa memilah bahwa tidak semua peristiwa bisa menjadi berita. Peristiwa yang akan dilaporkan pada berita radio jika memiliki nilai berita (news value) atau ada juga yang menyebutnya kaidah jurnalistik.

Apa itu news value atau nilai berita? Jawaban pertanyaan ini akan bisa diperoleh jika wartawan atau jurnalis atau reporter radio pernah mengikuti materi pendidikan atau pelatihan jurnalistik tingkat dasar, karena materi ini selalu diajarkan.

Seorang reporter radio harus bisa memahami informasi apa yang diinginkan pendengarnya? Karena tidak semua peristiwa adalah berita yang harus disiarkan melalui radio, maka reporter tersebut harus memahami dan mengerti kaidah jurnalistik tentang berita yang layak disiarkan.

Kaidah-kaidah jurnalistik atau nilai berita (news value) meliputi aktualitas (timelines), kedekatan (proximity), tokoh publik atau prominence, konflik (conflict), kriminalitas, kemanusian atau human interest, sensasional (unique) dan besaran kasus atau daya tarik (magnitude). Reporter radio harus mampu menonjolkan bagian yang paling menarik, hal ini lebih membutuhkan tingkat kreatifitas dalam mengembangkan sumber berita yang telah didapatkan. Seorang reporter radio juga harus memperhatikan kualitas berita yang dilihat dari voice dan noise.

Dalam struktur berita berita radio tidak terlalu berbeda dengan berita media cetak atau media online. Struktur naskah berita radio terdiri atas kalimat pembuka atau lead dan tubuh berita atau news body. Tetap menggunakan rumus penulisan berita 5W + 1H.

Karakteristik Berita Radio

Seorang reporter atau wartawan radio juga harus memahami dan mengerti karakteristik dan kriteria berita radio. Dalam situs romeltea.com menyebutkan jurnalistik radio (radio journalism) merupakan jurnalistik generasi kedua setelah jurnalisme cetak (print journalism). Jurnalistik radio disebut juga jurnalisme penyiaran (broadcast journalism).

Jurnalisme penyiaran atau jurnalisme radio memiliki ciri khas atau karakteristik utama yaitu : Pertama, Auditif atau radio hanya menyajikan suara untuk didengarkan, untuk telinga, untuk dibacakan atau disuarakan. Karenanya, jurnalisme radio itu disuarakan. Tidak ada format lain selain audio. Apa pun yang disampaikan melalui radio, harus berupa suara atau disuarakan (auditif).

Kedua, Spoken Language yakni menggunakan bahasa tutur atau kata-kata yang biasa diucapkan dalam obrolan sehari-hari (spoken words). Kata-kata yang dipilih mesti sama dengan kosakata pendengar biar langsung dimengerti. Penulisan naskah berita radio harus menggunakan bahasa tutur.

Ketiga, Sekilas yaitu informasi dalam siaran radio sekilas. Tidak bisa diulang. Karenanya harus jelas, sederhana, dan sekali ucap langsung dimengerti. Keempat, Global bahwa berita radio menghindari detail dan tidak rumit. Angka-angka dibulatkan, fakta-fakta diringkaskan. Satu topik berita idealnya disampaikan dalam 1-2 menit saja.

Berita radio juga memiliki kriteria yaitu, Baru dan Hangat (hot and new), Berarti (significant), Melayani kebutuhan (interest), dan berkaitan dengan kepentingan khalayak (relevant).

Kemudian dalam penulisannya, berita radio harus ELF (Easy Listening Formula). Enak didengar, mudah dipahami. Susunan kalimat yang jika diucapkan enak didengar dan mudah dimengerti pada pendengaran pertama. Usahakan menggunakan struktur kalimat SPOK –Subjek, Predikat, Objek, Keterangan.

Kemudian juga harus KISS (Keep It Simple and Short), sederhana dan ringkas. Naskah berita radio harus hemat kata, tidak mengumbar kata atau bertele-tele, menggunakan kalimat-kalimat sederhana, pendek, dan tidak rumit. Gunakan sesedikit mungkin kata sifat dan anak kalimat (adjectives).

Dan berita radio itu WTYT (Write The Way You Talk). Tuliskan sebagaimana Anda mengucapkannya. Artinya, gunakan bahasa tutur, bahasa percakapan. Misalnya, Pkl 16.00 ditulis “pukul empat sore” dan Rp5.000 ditulis pengucapannya “lima ribu rupiah.” Serta, Satu Kalimat Satu Napas, jadi upayakan tidak ada anak kalimat. Sedapat mungkin tiap kalimat bisa disampaikan dalam satu napas.

Juga harus diingat seorang reporter radio atau jurnalis pada umumnya dalam menulis dan menyiarkan beritanya harus berada di atas landasan A + B + C = C yaitu Accuracy + Balance + Clarity = Credibilty. Kredibilitas berita, naskah berita, penulis berita, penyampai berita, institusi radio dan tim redaksi pemberitaan radio sangat tergantung keyakinan para jurnalis dan penulis berita memperhatikan: Accuracy (keakuratan), Balance (keseimbangan) dan Clarity (kejelasan).

Ada satu tips bagi wartawan atau reporter radio yang dibagikan wartawan radio senior Hasan Asy`ari Oramahi dalam buku “Menulis untuk Telinga” (2003) memberi tips, ada lima azas yang senantiasa harus diingat dalam menulis berita (radio) yang akan disiarkan. Pertama, It’s Spoken­- –diucapkan. Berita radio adalah suatu yang diucapkan untuk didengar, naskah berita yang belum disiarkan belum dapat dikatakan berita radio. Dia baru menjadi berita radio, apabila sudah diucapkan atau dibaca enyiar untuk disiarkan kepada pendengar.

Kedua, It’s Immedate – langsung. Radio adalah media sekarang, bukan media kemarin atau media besok. Di antara kelebihan radio dibandingkan surat kabar adalah ciri sekarang tersebut, karena sesuatu yang disiarkan melalui radio, harus sampai di telinga pendengar dan memberi kesan bahwa hal itu terjadi sekarang.

Ketiga, It’s Person to Person – antar orang. Radio adalah media akan dan kau person to person, walaupun jumlah pendengar radio tidak terbatas, komunikasi yang digunakan atau dibangun adalah oleh penyiar dengan satu orang pendengar, dengan kata lain pendengar radio selalu tunggal adanya.

Walau jumlah radio tidak terbatas atau banyak, tidak terlihat dan terpisah jarak, maka komunikasi yang dibangun juga berupa komunikasi satu arah, artinya pesan yang disampaikan harus singkat, padat dan cermat.

Keempat, It’s Head Only Once. Radio adalah media sekali dengar, artinya pendengar hanya memiliki satu kesempatan untuk mendengar pesan yang disampaikan oleh penyiar sampaikan. Pendengar tidak punya kesempatan untuk meminta penyiar mengulangi pesan tersebut. Jadi berita radio harus clarity has to priority; artinya kejelasan merupakan prioritas utama.

Kelima, It’s Sound Only –Hanya Bunyi. Kata-kata adalah jembatan antara redaktur berita radio dan pendengar. Kata-kata itu hanya dapat didengar karena radio adalah media audio. Untuk siaran berita hal yang selalu diingat adalah bahwa karena radio bekerja hanya dengan bunyi belaka, it’s sound only, maka pesan yang disampaikan harus jelas; jangan membuat pendengar bingung (confuse).

Akhirnya Selamat Hari Radio, 11 September 2022, semoga belajar jurnalisme radio bermanfaat. (maspril aries)

Follow Me:

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *